'
Sekapur Sirih :
Selamat Datang di Web Catatan Adnyana,perkaya pengetahuan Anda dengan membaca Catatan Adnyana.Terimakasih
Recommend on Google
Tampilkan postingan dengan label Tattwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tattwa. Tampilkan semua postingan

Mengapa Orang Buleleng Mengistimewakan Perayaan Hari Pagerwesi?

Tradisi Bali menandai hari ini, Rabu (6/5) sebagai hari Buda Kliwon Sinta atau dikenal dengan nama hari raya PagerwesiBagi orang Bali yang lahir dan bermukim diBuleleng, khususnya seputaran Kota Singajara, Pagerwesi merupakan hari istimewa. Tidak seperti daerah lain di Bali, di Kota Singaraja, hari Pagerwesi dirayakan secara meriah, tak jauh berbeda dengan perayaan hari raya Galungan. Di daerah lain di Bali, perayaan Pagerwesi biasanya dilakukan secara sederhana. Itu sebabnya, Pagerwesi pun sering disebut sebagai Galungannya orang Buleleng

Gus Ma, seorang warga Kota Singaraja tetapi bekerja di Denpasar menuturkan saat hari Pagerwesi wajib baginya untuk pulang. "Ini Galungannya orang Buleleng, ya, harus pulang," kata Gus Ma. 


Karena dianggap setara dengan hari Galungan, kesibukan warga Buleleng menyambut hari Pagerwesi tidak jauh berbeda dengan kesibukan menyongsong hari Galungan. Bahkan, tak sedikit keluarga Buleleng yang memotong hewan piaraan untuk banten sodan

Saat Pagerwesi, orang Bali di Buleleng tidak hanya mengadakan persembahyangan di sanggah/merajan atau pun di sejumlah kahyangan jagatdi Buleleng, tetapi yang paling menarik perhatian tentunya tradisi mempersembahkanbanten punjung ke kuburan. Tradisi ini dilakoni warga yang memiliki kerabat yang sudah meninggal dunia dan jazadnya masih berada di liang lahat atau belum di-aben. Selesai mempersembahkan banten punjung, warga Buleleng akan mengadakan acara santap bersama di kuburan. Itu sebabnya, sejak pagi hari ini, kuburan di Buleleng cukup ramai dengan warga. 

Penyusun kalender Bali yang juga warga Buleleng, I Gede Marayana menuturkan tradisi perayaan Pagerwesi di Buleleng yang mirip dengan suasana perayaan hari Galungan memang sudah diwarisi sejak dulu. Bagi orang Buleleng, menurut Marayana, Pagerwesi merupakan otonan jagad, sama dengan Galungan. "Galungan dan Pagerwesi itu sama-sama jatuh saat hari Buda Kliwon," kata Marayana yang sering memberikan dharma wacana

Perayaan Pagerwesi, kata Marayana, merupakan rangkaian hari Saraswati. Karena itu, pemaknaannya tidak bisa dilepaskan dari makna hari Saraswati dalam kehidupan. Pada hari Saraswati, menurut Marayana, manusia menerima anugerah ilmu pengetahuan lalu menyelami kedalaman ilmu itu pada hari Banyupinaruh. Ilmu yang telah diraih itu digunakan sebagai bekal mengarungi kehidupan guna mendapatkan pangan (Soma Ribek) dan papan (Sabuh Mas). Setelah semua itu dicapai, kuatkanlah diri selayaknya pagar besi (Pagerwesi) agar bisa mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya. 


Namun, Marayana menambahkan, perayaan spesial di hari Pagerwesi tidaklah terjadi di seluruh Buleleng. Perayaan meriah umumnya terlihat di Kota Singaraja. Di daerah lain, perayaan Pagerwesi tak berbeda jauh dengan daerah lain di Bali Selatan, hanya diisi persembahyangan biasa. 

Memang, kalau dicermati, perayaan meriah Pagerwesi umumnya terlihat di daerah Buleleng Timur, seperti Kecamatan Buleleng hingga Tejakula. Sementara di Buleleng Barat, seperti Gerokgak hingga Busungbiu, perayaan Pagerwesi dilakukan secara sederhana.

Ketua Kelompok Pengkajian Bali Utara, I Gusti Ketut Simba, sebagaimana dilansirantarabali beberapa tahun lalu pernah menjelaskan perbedaan perayaan Pagerwesi antara Buleleng Timur dan Buleleng Barat karena kedua daerah itu memang memiliki kultur berbeda, meskipun tidak terlalu kentara. Secara tradisional, wilayah Buleleng Timur sering disebut Dangin Enjung, sedangkan wilayah Buleleng Barat kerap disebut Dauh Enjung

Perbedaan kultur itu, menurut Simba, juga dikarenakan pengaruh dua ajaran yang dibawa dua dinasti yang berbeda. Wilayah Timur Buleleng mendapat pengaruh ajaran Siwa Pasupata dari Dinasti Sanjaya dan Sanaha di Jawa Tengah. Wilayah Buleleng Barat mendapat pengaruh sekte Buda Mahayana yang dibawa dinasti Warman.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Bidang Lintas Iman, I Ketut Wiana mengatakan perayaan Pagerwesi yang meriah di Buleleng Timur merupakan tradisi lokal. "Kalau tradisi lokal itu biasanya karena berbagai faktor. Misalnya, pengaruh yang kuat dari tokoh lokal di masa lalu," kata Wiana. 


Namun, menurut Wiana, tradisi perayaan suatu hari raya yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain dalam agama Hindu merupakan suatu hal yang biasa. Di desa-desa Bali Aga, kata Wina, perayaan Galungan juga tidak semeriah perayaan di desa-desaBali Daratan

Kendati pun berbeda-beda, menurut Wiana, esensi perayaan hari Pagerwesi tetap sama, yakni ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas bimbingan Sang Hyang Pramesti Guru sebagai guru alam semesta, guru seluruh umat manusia. (b.)

sumber :www.balisaja.com/

Hari Velentine Menurut Agama Hindu



Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika, 2005:18). Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut, tampak beragam respon masyarakat Hindu, Bali Kususnya. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut, di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Tapi Agama Hindu dan budaya Bali tetap mampu menghadapi budaya global, namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya.
(Dikutip dari http://pdkmhdijabar.blogspot.com/ )

Hal tersebut diatas tidak terlepas dari ajaran Weda, terutama Manawa Dharmasastra sebagai kitab Hukum Hindu yang memberikan petunjuk yang jelas bagaimana kita menghadapi dan mempraktikan dharma dalam kehidupan sehari-hari sesuai tempat dimana kita berada dan sesuai perkembangan jaman. Dalam Manawa Dharmasastra VII.10 disebutkan sebagai berikut:

KARYAM SOVEKSO SAKTIMCA, DESA-KALA-CA TATVATAH,
KURUTE DHARMASSDDHIYARTHAM, VISWARUPAM PUNAH-PUNAH.

Artinya :
Setelah mempertimbangkan sepenuhnya maksud, kekuatan, dan tempat serta waktu , untuk mencapai keadilan ia menjadikan dirinya bermacam wujud, untuk mencapai tujuan keadilan yang sempurna.

Sloka di atas menegaskan bahwa didalam mempraktikan aturan dan ajaran Dharma hendaknya dilaksanakan berdasarkan: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (wilayah), Kala (waktu, perkembangan zaman), Tatva (sastra dan keadaan), untuk menyukseskan tujuan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan sebuah jawaban mengapa Hindu Nusantara berbeda dengan Hindu India, dan mengapa pula ajaran Hindu dalam pratiknya selalu menyesuaikan dengan Perkembangan zaman dan sesuai wilayah dimana penganutnya berada. Berdasarkan petunjuk Weda Smerti (Dharmasastra) di atas, mari kita kaji " Hari Valentine " yang biasa dilaksanakan setiap 14 Februari ini lebih dalam.


A. Sejarah Hari Valentine

Asosiasi sebagian orang, menganggap bahwa pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

B. Menyikapi Hari Valentine dari sudut Pandang Hindu

Samàno mantraá samitiá samàni
samànam manaá saha cittam eûàm,
samanam mantram abhi mantarey vah,
samanena vo havisa juhomi.

Rgveda X.191.3.
Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah  bersama.  Satukanlah  hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran  yang  sama, dan  fasilitas  yang sama pula untuk kerukunan hidupmu


Samànì va àkutiá samànà hådayàni vaá,
samànam astu vo mano yathà vaá susahàsati.

Rgveda X.191.4.
Wahai  umat   manusia!   Milikilah  perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat  mewujudkan  kerukunan dan kesatuan

Berdasarkan kutipan Rg Weda di atas sudah sepantasnya kita mempertimbangkan segala sesuatu yang berkaitan dalam kehidupan, baik kehidupan sehari-hari maupun di hari-hari raya serta hari spesial yang mengglobal seperti hari Valentine.

Dari berita-berita yang beredar di internet bahwa " Kota-kota besar di Indonesia pada moment Valentine tahun 2009, penjualan kondom malam Valentine Day terdongkrak tajam dibanding hari biasa ". Beberapa di antaranya adalah apotek-apotek yang mengaku bahwa sedikitnya 20 kotak kondom berisi 3 buah merek apapun ludes terjual khusus di malam Valentine Day. Dan ada beberapa apotek yang menegaskan bahwa dalam 24 jam sudah menjual sedikitnya 6 kotak kondom berisi 24 merek dan isi 13 kotak yang dibeli oleh pemuda remaja setiap mendekati pertengahan Februari. Umumnya, pembeli adalah pria berusia 20 tahun’.
Dari kutipan berita diatas dapat disimpulkan bahwa hari Valentine dijadikan ajang SEKS BEBAS , "melakukan seks diluar nikah" hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Sanatana Dharma atau lebih dikenal dengan nama Hindu.

Setiap orang dari kita tahu bahwa seks adalah merupakan kebutuhan biologis manusia. Bila hubungan seks bebas dikatakan tidak baik, lalu seperti apakah hubungan seks yang baik itu?. Kesucian dalam berhubungan seks, banyak diatur dalam Manawa Dharmasastra, Parasara Dharmasastra. Menurut pandangan Agama Hindu, hubungan seks itu dianggap sakral dan ada aturan mainnya adalah sebagai berikut :


1. Hubungan seks dalam Hindu tidak semata-mata " for fun " tetapi yang lebih utama adalah untuk mendapat keturunan yang disebut sebagai " dharma sampati " . Dengan demikian seks di luar nikah, menurut Hindu adalah dosa, termasuk " paradara " dalam trikaya parisuda (kayika).

2. Hubungan seks antara Suami istri agar dilakukan secara sakral :
 - Membersihkan badan/ mandi terlebih dahulu
 - Sembahyang mohon restu Dewa-Dewi Smara Ratih

    Hubungan seks jangan dilakukan:
 - Ketika sedang marah, mabuk, tidak sadar, sedih, takut, terlalu senang.
 - Ketika wanita sedang haid

    Waktu yang tidak tepat: siang kangin (fajar), bajeg surya (tengah hari), sandyakala (menjelang matahari terbenam), purnama, tilem, rerainan (hari raya), odalan, sedang melaksanakan upacara panca yadnya.
jangan meniru “gaya binatang”, yang disebut “alangkahi akasa” (melangkahi angkasa)
dalam berhubungan seks selalu berbentuk “lingga-yoni”.
Kalau senang hubungan seks diiringi musik, pilih yang slow/ tenang, jangan lagu dangdut atau yang ribut/ underground atau house-music, apalagi gaya tripping. Makanya di Bali dahulu ada gambelan “smara pegulingan” (artinya: asmara di tempat tidur) adalah jenis gambelan khas yang di tabuh di Puri-Puri di saat Raja sedang berintim ria dengan Permaisuri.

3. Bila hubungan seks dilaksanakan dengan patut sesuai swadharma kama sutra, maka anak yang lahir mudah-mudahan berbudi pekerti yang baik, menuruti nasihat orang tua, rajin sembahyang, pintar, sehat, pandai bergaul dan hidupnya sukses. Tetapi bila hubungan seks menyimpang, maka anak yang lahir disebut anak “dia-diu” yakni: bandel, menyakiti hati ortu, bodoh, jahat, banyak musuh, sulit hidupnya, sakit-sakitan.

C. Larangan Seks Bebas

Sex bebas dan " kumpul kebo " dalam Agama Hindu dilarang dan termasuk perbuatan adharma atau perbuatan dosa. Dalam Manawa Dharmasastra III.63 disebutkan :

Kuwiwahaih kriya lopair, wedanadhyayanena ca,
kulanya kulam tamyanti, brahmanati kramena ca

Dengan berhubungan seks secara rendah diluar cara-cara perkawinan (brahmana wiwaha, prajapati wiwaha dan daiwa wiwaha), dengan mengabaikan upacara pawiwahan, dengan mengabaikan weda, dengan tingkah laku hina, tidak memperhatikan nasihat Sulinggih maka keluarga-keluarga besar, kaya dan berpengaruh akan hancur berantakan.

Parasara Dharmasastra X.1:

Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih,
agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret

Aku (Bhagvan,Tuhan) telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.

Parasara Dharmasastra X.30 :

Jarena janayed garbhe tyakte mrte patau,
tam tyajed apare rastre patitam papa karinim.

Wanita yang memperoleh kehamilan dengan kekasih gelapnya (tidak melalui upacara pawiwahan), atau setelah ditinggal suaminya atau selama ketidakhadiran suaminya di negeri jauh, harus diusir ke sebuah kerajaan asing (keluar wilayah).

Selain itu dalam Sarasamuscaya yang menguraikan tentang Trikaya Parisudha, disebutkan salah satu dosa dari Kayika (perbuatan) adalah " Paradara " atau dalam bahasa sekarang “berzina” sebagaimana tertulis dalam pasal 153 :

Paradara na gantavyah sarvavarnesu karhicit,
na hidrcamanayusyam yathanyastrinisevanam.

Menggoda, memperkosa, menggauli wanita dengan usaha curang (tidak melalui pawiwahan) jangan dilakukan karena akan menyebabkan dosa dan berumur pendek.

Dalam Lontar Dharma Kauripan disebutkan bahwa anak yang lahir diluar perkawinan adalah anak “dia-diu”, anak yang cuntaka, akan mengalami hidup yang susah. Hubungan seks sebelum pawiwahan dikatakan sebagai dosa yang disebut “kama kaperagan”.

Syarat mutlak yang tak bisa ditawar adalah, seks harus dilakukan dengan cara yang benar, dengan sarana yang suci dan dengan semangat welas-asih yang tinggi. Atau dalam manifesto yang sederhana: Pengalaman spiritual yang suci, dari seks hanya bisa diraih dari hubungan seks yang sah, yaitu hubungan suami-istri. Dalam bahasa ilmiah, pengalaman spiritual itu bisa dianalogikan—tidak disamakan—dengan kepuasan psikologis puncak, kedamaian psikologis yang tinggi, dan keseimbangan jiwa. Hubungan seks secara jahat, atau hubungan seks pra-nikah, atau hubungan selingkuh, apalagi hubungan seks menyimpang, tak akan bisa menghadirkan pengalaman spiritual yang suci dan agung, dan jika dikaitkan dengan konsep keyakinan Hindu, hubungan seks yang tidak sah akan membawa karma negatif bagi jiwa kita.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan beberapa hal mengenai " Hari Valentine " menurut pandangan Hindu. Secara kontekstual valentine tidak bertentangan dengan Hindu, namun jika kita melihat dari fakta yang ada, bahwa hari valentine dijadikan ajang seks bebas, maka sangat bertentangan dengan ajaran veda. Jika anda tidak suka, syukuri hari tersebut sebagai hari kasih sayang. Jika anda suka, rayakan apa adanya jangan sampai dijadikan ajang seks bebas. Pada praktiknya tidak menutup kemungkinan ada saja beberapa pasangan yang memiliki keinginan atau hasrat untuk merayakan valentine dengan seks bebas, ada beberapa saran dan kutipan yang perlu kita semua renungkan sebelum akhirnya terperosok lebih dalam ke arah seks bebas.

Saran buat lelaki : Anda sebagai lelaki sudah sepatutnya menghargai dan menghormati perempuan.
Renungkan sloka Manawa dharmasastra dan praktikan :

Dimana perempuan dihormati disana para dewa merasa senang, akan tetapi dimana perempuan tidak dihormati disana tidak ada upacara suci yang berpahala. (Manawa Dharmasastra, III:56)

Dimana perempuan hidup sedih, keluarga itu akan cepat mengalami kehancuran, sebaliknya, dimana perempuan tidak hidup menderita, keluarga itu akan hidup bahagia. (Manawa Dharmasastra, III: 57)
pada hari raya memberinya hadiah perhiasan, pakaian, dan makanan.(Manawa Dharmasastra, II:59)

Saran buat perempuan : wanita yang berhubungan seks diluar nikah maka ia termasuk orang cuntaka (tidak suci), sehingga anda dilarang memasuki tempat-temapt suci, seperti pura. Jika anda melanggar itu tanggung jawab sendiri dihadapan Hukum Karma.

Canakya Niti Sastra XIV.1


Atmaparadha-vrksasya,Phalanyetani dehinam.
Darydrya-roga-duhkhani,Bandhanavyasanani ca.

Dari pohon dosa diri sendiri, orang mendapatkan buah berupa kemiskinan, penyakit, kedukaan, ikatan, dan kebiasaan buruk.

Seorang wanita biasanya susah menghadapi dilema cinta, apalagi kekasihnya mengancam bahwa jika tidak melakukan hubungan seks dikatakan bahwa seorang perempuan tidak cinta , tidak sayang, dll. Itu hanya “PEMBENARAN” bukan “KEBENARAN”.
Untuk menghadapi dilema seperti itu kita lihat dalam kitab Weda Smerti
Canakya Niti sastra III.2 :

sambhramah snehamahkhyati

Cinta kasih terlihat dari rasa hormat dan kelembutan.

Jadi lelaki yang mengatakan pembenaran seperti itu hanyalah "Cinta karena Nafsu" bukan "Kasih Sayang". Agar tidak terjebak oleh apa yang disebut "Cinta Buta dan Cinta Nafsu", renungkan sloka dibawah ini :
Canakya Nitisastra XIII.6


Yasya sneho bhayam tasya, Sneho duhkhasya bhajanam.
Sneho mulani duhkhani, Tani tyaktva vaset sukham

Dimana ada cinta disana ada ketakutan, cinta adalah tempat bagi kedukaan, dan cinta juga yang merupakan permulaan dari segala kedukaan. Oleh karena itu , tinggalkan segala kecintaan itu dan mantaplah dalam kesukaan.

" Selain seorang ISTRI yang sah semua wanita adalah IBU. Selain seorang SUAMI yang sah semua laki-laki adalah AYAH "

Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu



sumber Foto :antaranews.com
Ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan "Tiga Kerangka Dasar", di mana bagian yang satu dengan lainnya saling isi mengisi dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa.
(Dikutip dari http://www.babadbali.com/)

Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah:

1.Tattwa (Filsafat)
Sebenarnya agama Hindu mempunyai kerangka dasar kebenaran yang sangat kokoh karena masuk akal dan konseptual. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa. Tattwa dalam agama Hindu dapat diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut Pramana. Ada 3 (tiga) cara penyerapan pokok yang disebut Tri Pramana. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki dalam tattwa, sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan. Kepercayaan dan keyakinan dalam Hindu disebut dengan sradha. Dalam Hindu, sradha disarikan menjadi 5 (lima) esensi, disebut Panca Sradha.

Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini, perjalanan hidup seorang Hindu menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa. Ada 4 (empat) jalan yang bisa ditempuh, jalan itu disebut Catur Marga.

Demikianlah tattwa Hindu Dharma. Tidak terlalu rumit, namun penuh kepastian. Istilah- istilah yang disebutkan di atas janganlah dianggap sebagai dogma, karena dalam Hindu tidak ada dogma. Yang ada adalah kata- bantu yang telah disarikan dari sastra dan veda, oleh para pendahulu kita, agar lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pencerahan, dalam pencarian kebenaran yang hakiki.


2.Susila (Etika)

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.

Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya, oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur, membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. 

Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". "Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.

Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang. 

Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.

3.Upacara- Yadnya


ARTI YADNYA
Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
  1. Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
  2. Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
  3. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
  4. Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.
 

Banner Iklan

Banner Iklan Anda

Banner Iklan Anda
Copyright © 2011. Catatan Adnyana - All Rights Reserved
Published by Adnyana.com
Proudly powered by Blogger